Kamis siang, 2 Desember 2021, asap hitam membubung dari Gedung Cyber 1 di Kuningan Barat, Jakarta Selatan. Dua puluh dua unit pemadam dikerahkan ke lokasi. Di media sosial, para pelanggan layanan hosting yang datanya tersimpan di gedung itu mulai gelisah, bertanya satu sama lain apakah data mereka aman. Api diduga berasal dari korsleting listrik di ruang server lantai dua, membakar kabel demi kabel hingga asap tebal memenuhi ruangan. Ini bukan kali pertama gedung itu terbakar, enam tahun sebelumnya, ruang serupa di lantai delapan gedung yang sama juga sempat dilalap api.
Di tempat lain dan waktu lain, kejadian serupa pernah melumpuhkan sebagian internet Indonesia. Kebakaran di Indonesia Data Center Duren Tiga, dipicu ledakan UPS di lantai dua, membuat sejumlah situs berita besar tidak bisa diakses selama berjam jam. Peristiwa peristiwa ini punya benang merah yang sama, ruang server adalah salah satu titik di dalam sebuah gedung yang risikonya paling sering diremehkan, padahal yang dipertaruhkan di dalamnya bukan hanya properti fisik, melainkan data yang menopang operasional banyak pihak sekaligus.
Yang jarang disadari, ruang seperti ini butuh cara berpikir yang justru berkebalikan dari ruangan lain di gedung yang sama. Di lorong, di gudang, bahkan di kantor, air adalah sekutu utama saat api muncul. Tapi begitu masuk ke ruang server, air bisa berubah jadi ancaman kedua setelah api itu sendiri.
Kenapa Air Bukan Sekutu di Ruang Server
Kebakaran di ruang server hampir selalu berasal dari sumber yang sama, arus pendek, panel listrik yang terlalu panas, atau UPS yang gagal berfungsi. Ini digolongkan sebagai kebakaran kelas C, kebakaran yang melibatkan peralatan listrik bertegangan. Menyemprotkan air ke sumber panas seperti ini sama saja dengan mengundang bahaya baru, air bersifat konduktif dan bisa menghantarkan listrik kembali ke siapa pun yang berada di dekatnya.
Bahkan andai listrik sempat dipadamkan lebih dulu, air tetap punya ongkosnya sendiri. Rak rak server, motherboard, dan jaringan kabel yang basah oleh air jarang bisa dipakai lagi begitu saja, dan bubuk kimia dari APAR konvensional pun meninggalkan residu yang bersifat korosif pada komponen elektronik. Dengan kata lain, sistem yang seharusnya menyelamatkan data justru bisa menjadi penyebab kedua hilangnya data itu, setelah api sendiri.
Clean Agent, Petugas Pemadam yang Tidak Meninggalkan Jejak
Di sinilah sistem clean agent bekerja. Alih alih menyemprotkan air atau bubuk, sistem ini melepaskan gas pemadam ke seluruh ruangan dalam proses yang disebut total flooding, memenuhi ruangan hingga mencapai konsentrasi yang cukup untuk memadamkan api dalam hitungan detik. Standar internasional NFPA 2001 mendefinisikan clean agent sebagai media pemadam yang tidak menghantarkan listrik, mudah menguap, dan tidak meninggalkan residu sama sekali setelah digunakan.
Ada dua keluarga besar clean agent. Golongan halocarbon seperti FM-200 dan Novec 1230 bekerja dengan menyerap panas dari api secara kimiawi. Golongan gas inert seperti IG-541 dan Inergen bekerja dengan cara berbeda, menurunkan kadar oksigen di ruangan hingga di bawah ambang yang dibutuhkan api untuk terus menyala, namun tetap berada di level yang aman untuk dihirup manusia dalam waktu singkat.
Detik-Detik yang Menentukan
Kecepatan adalah alasan utama clean agent dipilih untuk ruang server. Begitu detektor asap dini seperti VESDA menangkap partikel pembakaran, jauh sebelum asap tebal terlihat mata telanjang, panel kontrol memverifikasi sinyal dari lebih dari satu titik deteksi sekaligus, sebuah mekanisme yang disebut cross-zoned detection, supaya sistem tidak salah memicu pelepasan gas hanya karena debu atau uap AC. Begitu terverifikasi, gas dilepaskan dari tabung bertekanan menuju seluruh ruangan lewat jaringan nozzle, mencapai konsentrasi pemadaman dalam waktu sekitar sepuluh detik saja.
Setelah gas dilepaskan, ruangan tidak perlu dibersihkan, tidak perlu dikeringkan, dan tidak meninggalkan bekas apa pun di permukaan perangkat. Inilah yang membedakan clean agent dari sistem berbasis air maupun bubuk, waktu pemulihan operasional bisa dihitung dalam hitungan jam, bukan hari, karena tidak ada air atau residu yang perlu disingkirkan lebih dulu dari rak server.
Ketika Ruangan Itu Tidak Terlindungi Sama Sekali
Pada dini hari 10 Maret 2021, sebuah data center milik OVHcloud di Strasbourg, Prancis, salah satu penyedia hosting terbesar di Eropa, terbakar habis. Api yang diduga berawal dari gangguan pada unit UPS di ruang energi menyebar begitu cepat sehingga seluruh gedung setinggi lima lantai, SBG2, rata dengan tanah, sementara gedung di sebelahnya ikut rusak. Jutaan situs web di seluruh dunia yang datanya tersimpan di sana langsung tidak bisa diakses.
Laporan resmi dinas pemadam kebakaran setempat kemudian mengungkap satu temuan yang mengganggu, bangunan itu tidak memiliki sistem pemadam kebakaran otomatis. Tanpa deteksi dini yang memicu pemadaman sejak detik pertama, api yang bermula dari satu unit UPS punya cukup waktu untuk berkembang menjadi bencana berskala penuh sebelum petugas pemadam manusia sempat bertindak.
Investasi yang Baru Terasa Ketika Terlambat
Sama seperti sistem proteksi kebakaran lainnya, clean agent bukan sesuatu yang dipasang lalu dilupakan. NFPA 2001 mensyaratkan berat tabung agen diverifikasi setiap enam bulan, sementara panel kontrol, perangkat deteksi, dan integritas ruangan diuji penuh setiap tahun untuk memastikan gas benar benar bisa tertahan di dalam ruangan cukup lama saat dibutuhkan. Ruangan yang bocor, sekecil apa pun celahnya, bisa membuat konsentrasi gas turun sebelum api benar benar padam.
Ruang server jarang jadi perhatian utama sebuah gedung. Ia tersembunyi di balik pintu berlabel, jauh dari lalu lalang orang, dan nyaris tidak pernah dikunjungi kecuali ada gangguan teknis. Justru karena itulah risikonya sering terlewat dari perhatian, sampai hari ketika satu unit UPS yang terlalu panas mengubah ruangan sunyi itu menjadi titik kegagalan yang merembet ke banyak pihak sekaligus, dari satu perusahaan ke ribuan penggunanya.
Fire protection system untuk ruang server, pada akhirnya, adalah tentang memilih alat yang tepat untuk sesuatu yang tidak boleh basah. Bukan soal air lebih lemah dari gas, melainkan soal memahami apa yang sesungguhnya sedang dilindungi, dan memastikan cara melindunginya tidak justru menambah kerugian yang seharusnya bisa dicegah.
Referensi
- Kumparan.com. (2021). Kebakaran Data Center Sering Terjadi di Indonesia, Ini Catatannya. kumparan.com
- Seputaraceh.com. Data Center Terbakar, Hingga Saat Ini Sejumlah Situs Masih Down. seputaraceh.com
- W.Media. (2022). What was the Possible Cause of the OVHcloud Data Centre Fire in 2021? w.media
- Fireline. NFPA 2001, Clean Agent Suppression Systems for Sensitive Equipment. fireline.com
- US Made Supply. NFPA 2001 Clean Agent Systems, FM-200, Novec 1230, Inergen. usmadesupply.com
Sudah tahu ruang server Anda dilindungi apa?
Tim AMS membantu audit, desain, dan instalasi sistem clean agent untuk server room dan data center sesuai standar NFPA 2001.